Sabtu, 12 Januari 2013

Forgive and Forget (Cerpenku)


(Forgive and Forget)        
      
Perkenalkan, namaku Putri. Seorang gadis cupu yang ingin menghias masa remaja dengan indahnya mempunyai yang namanya seorang pacar. Aku belum pernah pacaran, apalagi didekati seorang cowok. Mungkin karena dandananku yang tidak modis. Ya memang inilah aku apa adanya. Tak ingin terlihat lebih di mata orang, karena memang tak ada yang lebih dariku. Wajahku tak terlihat cantik meski dirias, tapi satu yang aku yakini. Cantik tak dipandang dari luarnya saja, tapi di dalam lubuk hati.
          Aku bersekolah di sebuah SMA dekat rumahku, namanya SMA Pattimura. SMA yang kuharapkan memiliki banyak kenangan indah. Kali ini aku benar-benar jatuh cinta yang pertama. Seorang atlit yang adalah adik kelasku. Gilang, begitu ia akrab dipanggil. Siapa sih yang tidak suka dengan seorang cowok tampan, tinggi, atlit pula. Kalau aku ditanya sih jawabannya tak tahu, karena dari awal memang tak tahu kenapa rasa ini padanya, seperti ada medan magnet yang sangat kuat ingin menarikku. Percaya tidak cinta pandangan pertama itu ada. Layaknya bunga matahari, aku selalu memperhatikanmu. Sayangnya kami tak saling kenal, berjabat tangan atau bahkan menjalin sebuah pertemanan. Bagaimana mungkin aku mempunyai seorang pacar, teman baik saja aku tak punya.
          Mentari pagi itu seolah enggan menampakan sinarnya, awan mendung menghias langit. Dengan kaca mata dan kancing baju tertutup rapat dari bawah sampai atas, ku langkahkan kaki menuju kelasku. “Teman-teman, anak cupu baru datang nih. Enaknya kita apa kan ya?!” kata seorang teman sekelasku yang memang sinis dengan dandananku. Aku tak menghiraukan perkataannya dan langsung duduk di kursi yang sebelumnya telah ditempel permen karet dan merupakan sarapan pagiku. Jangan heran, setiap hari aku harus menguji kesabaranku dengan naik turun tangga sebelum memulai pelajaran untuk membersihkan kursi itu dari permen karet. Aku berfikir seribu kali, apa aku pernah melakukan kesalahan besar pada mereka hingga mereka tega padaku. Tak tahulah.
Tetes air hujan membasahi lukisanku pada buku gambar A4 itu. Beberapa temanku menghampiri dan mengambil lukisanku. Angin itu datang, terkadang kita harus diam atau menghindar. “Woe teman-teman, pernah lihat anak cupu jatuh cinta tidak? Hahaha” mereka menertawakan lukisanku. Sampai kapan aku harus sabar menghadapi mereka.
          Bel istirahat berbunyi. Seperti biasa, aku mengambil peralatan melukisku dan duduk di belakang kelas yang jauh dari hiruk pikuk. Bangku-bangku bekas itu seolah berbicara, ingin rasanya mereka kusebut teman yang telah menemaniku menyelesaikan lukisan-lukisanku. Inspirasiku saat itu berjalan tak hentinya, dibayanganku hanya tampak wajah Gilang. Aku mencoba melukis wajah Gilang. Tampan. Cat air ditanganku menggores tembok di bawah kursi yang aku duduki, tertulis jelas kata-kata ‘Putri cinta Gilang’.
Aku pergi ke toilet yang bersebelahan dengan ruang kelas Gilang. Saat itu ia sedang bersandar pada pintu kelasnya. Tak menyangka, dia tersenyum kepadaku. Aku mendadak tak menentu. Pertemuan singkat dan berjalan sangat cepat. Sampai saatnya aku tersadar dari lamunan itu, yang aku butuhkan mungkin ‘forget’.
Tak disengaja aku melihat kertas yang tertempel pada papan pengumuman pada sudut taman sekolah, bahwa akan diadakan lomba melukis dalam rangka HUT sekolah. Mungkin inilah saatnya aku menyalurkan bakatku. Keesokan harinya, aku mencoba mendaftarkan lukisanku; lukisan wajah Gilang ke panitia lomba.
Saat seluruh lukisan yang dilombakan dipamerkan pada dinding-dinding aula sekolah, banyak dari teman-teman berhenti pada lukisanku. Mereka terpesona, sebagian besar dari mereka mengatakan “rasanya aku pernah lihat orang dilukisan ini”.
Gilang mengelilingi ruangan pameran dan berhenti pada lukisanku, sama seperti yang lain. Dalam benaknya, serasa pernah melihat wajah itu dan pemandangan pantai sebagai latarnya. Dia hanya tersenyum melihat nama pelukisnya. Teman-teman yang memperhatikan lukisanku, melihat Gilang dan berkata, “itu kamu yang dilukisan itu? Mirip, tampan ya”. Setelah satu hari pameran lukisan berlangsung untuk menentukan juaranya melalui kotak yang telah berisi kertas nama-nama pelukis yang didukung dan telah dimasukkan oleh para pengunjung pameran. Siapa yang paling banyak mendapat tulisan, dialah pemenangnya. Aku memenangkan lomba itu. Lukisan Gilang menang. Rasa senang bercampur sedih kurasakan. Perasaan ini mungkin hanya aku yang rasa, Gilang bahkan tak mengenalku. Hanya satu hati.
Beberapa hari kemudian. Aku termenung sendiri menatap langit dan setiap hamparan sawah di belakang kelasku. Sambil melanjutkan lukisanku, tak terasa air mata menetes. Dari sudut tak terduga terdengar langkah kaki mendekat padaku, aku tak ingin melihatnya. Gilang datang dari belakang. “Kamu? Kenapa kamu bisa disini?” kataku terkejut. “Ini kan tempat kesayanganku kalau lagi penat sama pelajaran, dan ternyata yang buat tulisan di bawah kursi itu kakak,” katanya sambil menunjuk ke arah kursi yang aku duduki. Mukaku langsung merah. “Ayo kak, ngaku saja. Kakak suka kan sama aku? Kakak juga yang buat aku sebagai objek lukisan kakak” lanjutnya. Air mataku menetes lagi. Bangku-bangku bekas itu menjadi saksi bisu pertemuan kami.
Gilang duduk di sampingku. Ia melepas kaca mataku dan mengusap air mataku dengan sapu tangan di kantong celananya. “Kenapa kamu lakuin ini?” tanyaku. “Apa aku boleh bilang kalau aku juga suka sama kakak?” katanya. Aku terdiam mendengar kata-kata Gilang.
 “Kakak, maaf aku juga suka sama kakak waktu pertama kali kita bertemu saat Masa Orientasi Siswa didik baru. Tapi aku punya Gia, kak. Maaf kak, aku tak mungkin menyakitinya. Maafkan aku kak” tuturnya. 
Gilang memelukku. “Untuk beberapa saat yang dibutuhkan hanya diam dan tetaplah seperti ini”. Tak ingin berakhir saat-saat seperti itu. Andai aku Sang Dewi Waktu, satu detik akan kubuat satu jam lamanya. Ku harap rasa itu akan hilang bersamaan dengar memudarnya tulisan cat air itu dan selamanya hanya menjadi kenangan. Rasa bersalah pada Gia itu ada. Maafkan aku memikirkannya. Forgive me.  
 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar