(Forgive
and Forget)
Perkenalkan, namaku Putri. Seorang
gadis cupu yang ingin menghias masa remaja dengan indahnya mempunyai yang
namanya seorang pacar. Aku belum pernah pacaran, apalagi didekati seorang
cowok. Mungkin karena dandananku yang tidak modis. Ya memang inilah aku apa
adanya. Tak ingin terlihat lebih di mata orang, karena memang tak ada yang
lebih dariku. Wajahku tak terlihat cantik meski dirias, tapi satu yang aku
yakini. Cantik tak dipandang dari luarnya saja, tapi di dalam lubuk hati.
Aku bersekolah di sebuah SMA dekat
rumahku, namanya SMA Pattimura. SMA yang kuharapkan memiliki banyak kenangan
indah. Kali ini aku benar-benar jatuh cinta yang pertama. Seorang atlit yang
adalah adik kelasku. Gilang, begitu ia akrab dipanggil. Siapa sih yang tidak suka
dengan seorang cowok tampan, tinggi, atlit pula. Kalau aku ditanya sih
jawabannya tak tahu, karena dari awal memang tak tahu kenapa rasa ini padanya,
seperti ada medan magnet yang sangat kuat ingin menarikku. Percaya tidak cinta
pandangan pertama itu ada. Layaknya bunga matahari, aku selalu memperhatikanmu.
Sayangnya kami tak saling kenal, berjabat tangan atau bahkan menjalin sebuah
pertemanan. Bagaimana mungkin aku mempunyai seorang pacar, teman baik saja aku
tak punya.
Mentari pagi itu seolah enggan
menampakan sinarnya, awan mendung menghias langit. Dengan kaca mata dan kancing
baju tertutup rapat dari bawah sampai atas, ku langkahkan kaki menuju kelasku.
“Teman-teman, anak cupu baru datang nih. Enaknya kita apa kan ya?!” kata
seorang teman sekelasku yang memang sinis dengan dandananku. Aku tak menghiraukan
perkataannya dan langsung duduk di kursi yang sebelumnya telah ditempel permen
karet dan merupakan sarapan pagiku. Jangan heran, setiap hari aku harus menguji
kesabaranku dengan naik turun tangga sebelum memulai pelajaran untuk
membersihkan kursi itu dari permen karet. Aku berfikir seribu kali, apa aku
pernah melakukan kesalahan besar pada mereka hingga mereka tega padaku. Tak
tahulah.
Tetes air hujan membasahi lukisanku
pada buku gambar A4 itu. Beberapa temanku menghampiri dan mengambil lukisanku. Angin
itu datang, terkadang kita harus diam atau menghindar. “Woe teman-teman, pernah
lihat anak cupu jatuh cinta tidak? Hahaha” mereka menertawakan lukisanku.
Sampai kapan aku harus sabar menghadapi mereka.
Bel istirahat berbunyi. Seperti biasa,
aku mengambil peralatan melukisku dan duduk di belakang kelas yang jauh dari
hiruk pikuk. Bangku-bangku bekas itu seolah berbicara, ingin rasanya mereka
kusebut teman yang telah menemaniku menyelesaikan lukisan-lukisanku. Inspirasiku
saat itu berjalan tak hentinya, dibayanganku hanya tampak wajah Gilang. Aku mencoba
melukis wajah Gilang. Tampan. Cat air ditanganku menggores tembok di bawah kursi
yang aku duduki, tertulis jelas kata-kata ‘Putri cinta Gilang’.
Aku pergi ke toilet yang bersebelahan
dengan ruang kelas Gilang. Saat itu ia sedang bersandar pada pintu kelasnya. Tak
menyangka, dia tersenyum kepadaku. Aku mendadak tak menentu. Pertemuan singkat
dan berjalan sangat cepat. Sampai saatnya aku tersadar dari lamunan itu, yang
aku butuhkan mungkin ‘forget’.
Tak disengaja aku melihat kertas yang
tertempel pada papan pengumuman pada sudut taman sekolah, bahwa akan diadakan
lomba melukis dalam rangka HUT sekolah. Mungkin inilah saatnya aku menyalurkan
bakatku. Keesokan harinya, aku mencoba mendaftarkan lukisanku; lukisan wajah Gilang ke panitia lomba.
Saat seluruh lukisan yang dilombakan
dipamerkan pada dinding-dinding aula sekolah, banyak dari teman-teman berhenti
pada lukisanku. Mereka terpesona, sebagian besar dari mereka mengatakan
“rasanya aku pernah lihat orang dilukisan ini”.
Gilang mengelilingi ruangan pameran dan
berhenti pada lukisanku, sama seperti yang lain. Dalam benaknya, serasa pernah
melihat wajah itu dan pemandangan pantai sebagai latarnya. Dia hanya tersenyum
melihat nama pelukisnya. Teman-teman yang memperhatikan lukisanku, melihat Gilang
dan berkata, “itu kamu yang dilukisan itu? Mirip, tampan ya”. Setelah satu hari
pameran lukisan berlangsung untuk menentukan juaranya melalui kotak yang telah
berisi kertas nama-nama pelukis yang didukung dan telah dimasukkan oleh para
pengunjung pameran. Siapa yang paling banyak mendapat tulisan, dialah
pemenangnya. Aku memenangkan lomba itu. Lukisan Gilang menang. Rasa senang
bercampur sedih kurasakan. Perasaan ini mungkin hanya aku yang rasa, Gilang bahkan
tak mengenalku. Hanya satu hati.
Beberapa hari kemudian. Aku termenung
sendiri menatap langit dan setiap hamparan sawah di belakang kelasku. Sambil
melanjutkan lukisanku, tak terasa air mata menetes. Dari sudut tak terduga
terdengar langkah kaki mendekat padaku, aku tak ingin melihatnya. Gilang datang
dari belakang. “Kamu? Kenapa kamu bisa disini?” kataku terkejut. “Ini kan
tempat kesayanganku kalau lagi penat sama pelajaran, dan ternyata yang buat
tulisan di bawah kursi itu kakak,” katanya sambil menunjuk ke arah kursi yang
aku duduki. Mukaku langsung merah. “Ayo kak, ngaku saja. Kakak suka kan sama
aku? Kakak juga yang buat aku sebagai objek lukisan kakak” lanjutnya. Air
mataku menetes lagi. Bangku-bangku bekas itu menjadi saksi bisu pertemuan kami.
Gilang duduk di sampingku. Ia melepas kaca
mataku dan mengusap air mataku dengan sapu tangan di kantong celananya. “Kenapa
kamu lakuin ini?” tanyaku. “Apa aku boleh bilang kalau aku juga suka sama
kakak?” katanya. Aku terdiam mendengar kata-kata Gilang.
“Kakak, maaf aku juga suka sama kakak waktu
pertama kali kita bertemu saat Masa Orientasi Siswa didik baru. Tapi aku punya
Gia, kak. Maaf kak, aku tak mungkin menyakitinya. Maafkan aku kak” tuturnya.
Gilang memelukku. “Untuk
beberapa saat yang dibutuhkan hanya diam dan tetaplah seperti ini”. Tak ingin
berakhir saat-saat seperti itu. Andai aku Sang Dewi Waktu, satu detik akan
kubuat satu jam lamanya. Ku harap rasa itu akan hilang bersamaan dengar
memudarnya tulisan cat air itu dan selamanya hanya menjadi kenangan. Rasa
bersalah pada Gia itu ada. Maafkan aku memikirkannya. Forgive me.


Tidak ada komentar:
Posting Komentar