Sabtu, 09 November 2013

Someday (cerpenku)



 Someday...

"Berharap suatu hari kamu akan melihatku,
Ku harap hari itu cepat datang sebelum kita berpisah,
Berharap kamu mengetahuinya suatu hari,
Meskipun aku mencintaimu, jauh di dalam hatiku aku tak cukup berani..."



Setiap orang di dunia pasti punya cinta pertamanya masing-masing. Jutaan memori masa-masa itu yang tak bisa ditangkap logika. Tentang rasa sesak di dada, dan bahagia yang luar biasa saat dia di dekatmu. Sepenggal kisah dari sudut tanpa nama yang entah dimana ujungnya mencoba bercerita.
            Dia berjalan di jalannya, aku di jalanku. Mungkin kami tak akan pernah bertemu lagi setelah hari perpisahan SMA. Aku membulatkan tekadku untuk mengungkapkannya hari itu juga. Aku tak ingin kata 'iya' atau 'tidak'. Berharap tak ada kata yang terlontar dari bibirnya, karena aku hanya ingin membuat hatiku lega dengan perasaan yang telah tumbuh selama 3 tahun, dan terima kasihku pada Tuhan karena pernah mengenalmu.
            Segalanya telah ku persiapkan untuk hari itu. Mulai dari amplop putih berisi surat untuknya, bunga matahari yang ku tanam dari bayi hingga tumbuh besar nan indah yang siap ku petik dan kuselipkan di amplop itu, hingga kata-kata apa yang harus ku ucapkan nantinya. Tetap saja rasa takut itu ada setiap kali aku melihat bunga matahariku. Tangisan sesekali datang mengingat dimana kamu tidak menghiraukanku sama sekali. Bayangan masa-masa itu terlintas dibenakku.
***
            Hari itu aku suka padamu, hari itu teman-teman sekelas menyoraki kita. Setiap aku maju untuk presentasi kelompok, setiap kamu mengajukan pertanyaan tentang materi yang dibawakan kelompokku, dan itu berlanjut untuk presentasi terakhirku di kelas sepuluh. Aku bahkan masih ingat suaramu dan pertanyaan yang kamu ajukan. Dan saat-saat itu juga yang mungkin membuatmu menjauhiku.
Aku berharap tak mengerti arti air mataku saat drama kelompokmu, dia memelukmu. Tiba-tiba air mataku jatuh tanpa alasan dan aku berlari ke toilet untuk menghapus air mataku. Atau tentang hari esoknya aku sakit tidak sekolah. Tapi kamu tetap diam. Masih dengan gayamu yang mencoba mengalihkan pandangan dengan tidak menghiraukanku. Diam terus saja diam. Sampai kapan kamu bisa melihatku, menghiraukanku, atau berbicara padaku. Dulu kita akrab menjadi teman, tapi kamu mulai menjauhiku sedikit demi sedikit. Bukankah dulu kita berteman. Sekarang, apa kita sering bertegur sapa, tidak. Apa kita sering berbicara tentang pelajaran di sekolah, tidak. Aku ingin menghapus semua rasa ini, berharap jadi teman dekatmu sekarang hanya khayalanku dari banyak mimpi tentangmu. Dan apa kamu tahu rasanya jadi aku saat seseorang bilang padaku, dia pernah ditembak kamu 5 kali. Ya sudahlah kamu tak akan mengerti. Hanya diam.
Tentang gambaranku yang ku berikan padamu, atau tentang sapu tangan yang kutaruh di motormu. Dapatkah mereka bercerita. Bagaimana perjuanganku untuk menggambar garis demi garis hingga membentuk sketsa wajahmu, bagaimana sapu tangan itu begitu ingin membasuh keringat yang jatuh dikeningmu. Atau tentang esoknya tiba-tiba kamu membawa sapu tangan biru, sama dengan yang aku pakai. Tapi kamu diam dan masih diam.
Hal ini semakin meyakinkanku untuk menghapus harapan yang telah kusimpan lama. Short Message Service awalnya ku kira bisa mendekatkan kita kembali menjadi teman. Aku pernah message kamu berisi namaku saat aku ganti nomor handphone. Tapi sungguh aku sesali sebulan berikutnya aku mencoba message lagi lalu apa balasanmu "ini siapa?". Awalnya aku mencoba sabar, dengan memberi tahu siapa aku. Selanjutnya tak ada balasan lagi darimu. Sepertinya mendengar namaku saja kamu sudah muak. Kata-kata itu muncul terus, setiap kali aku mencoba memperbaiki hubungan.
Sebulan kemudian,
"Ini siapa?"
Dua bulan kemudian,
"ini siapa?"
Tiga bulan masih dengan kata-kata yang sama, dan balasanku yang sama. Inginku menyerah dan melupakan semua.
            Jika aku ditanya mengapa menyukaimu Galih, aku menjawab "tidak tahu". Karena itu sungguh jawabannya. Bukan karena parasmu atau harta orang tuamu. Dan jika memang harus ada jawaban, aku akan menjawab ''karena Tuhan''. Tuhan yang mempertemukan kita dulu.
Hari demi hari berlalu, dan Tuhan mulai menjawab segala pertanyaanku. Mulai hari itu Tuhan mempertemukanku di rumah-Nya, tapi kami masih diam. Tak ada yang ingin memulai pembicaraan, meski dijarak dua jengkalpun. Dan kejadian itu berlangsung terus sampai hari-hari berikutnya.
Haruskah aku yang memulai duluan, Galih. Maafkan aku jika aku banyak salah padamu. Maafkan aku yang tak bisa mengerti apa maksudmu selama ini padaku. Maafkan untuk segalanya.
***
Dan hari itu datang, aku ingin lupa hari itu tanggal dan tahun berapa. Hari dimana harus aku ungkapkan segalanya dan menanyakan kata mengapa kepada Galih. Semua temanku menundukan kepala saat aku memasuki kelas yang dingin itu. Warna yang berbeda dari biasanya. Jendela yang terbuka dan angin yang berhembus kencang serta nafas yang tersengal-sengal. Sahabatku Dina juga diam saat aku tanya mengapa. Satu menit berlalu Dina masih terdiam, hanya terdengar angin yang berbisik dan kicau burung disela-sela jendela. Dan dua menit, tiga menit, lima menit, sepuluh menit akhirnya Dina berbicara meski diikuti isak tangis.
"Raa....ratna, ", kata Dina terbata-bata.
"Iya ada apa Dina, mengapa kamu menangis?" kataku heran.
"Ini, untukmu", kata Dina memberikanku sebuah surat dengan amplop putih, hampir sama seperti yang akan aku berikan ke Galih.
Awan mendung sesaat berada di atas kelas kami, entah kenapa padahal sebelumnya matahari bersinar terang. Petir memecahkan kaca jendela yang tadinya tempat burung mungil itu bertengger. Suasana hati ini makin kacau.
Aku mencoba membuka surat itu, lem amplopnya sangat rekat seolah yang menulisnya sangat yakin untuk diberikan padaku. Tanganku, badanku tiba-tiba lemas. Aku terjatuh ke lantai, Dina mencoba membangunkanku. Mataku tak dapat membendung tangisanku lagi. Itu adalah surat pertama dan terakhir Galih untukku. Dia telah pergi jauh menuju Sang Pencipta karena Leukimia.
Disana tertulis,
"..., maafkan aku Ratna, aku menyukaimu. Kesederhanaanmu, senyummu, ceriamu, segalanya. Selama ini aku diam bukan karena aku membencimu, aku hanya tak tahu harus bilang apa padamu, aku bodoh Ratna. Aku hanya tak ingin membuatmu menangisiku. Aku juga ingin kamu melupakan aku. Karena aku akan pergi selamanya, meninggalkanmu, ..."
Mulai hari itu tak ada yang membalas message ku lagi dengan kata "ini siapa?", karena Galih selamanya akan diam. Amplop putih itu semakin usang dan berdebu. Bunga matahariku telah layu dan mati.
"Senin aku menunggu, selasa masih menunggu. Rabu kau masih tak disini, pagi hari atau kemudian. Kamis juga masih kosong. Jumat, sabtu, minggu, tiada hari kau akan kembali."
(L.R.)