Someday...
"Berharap
suatu hari kamu akan melihatku,
Ku harap
hari itu cepat datang sebelum kita berpisah,
Berharap kamu
mengetahuinya suatu hari,
Meskipun aku
mencintaimu, jauh di dalam hatiku aku tak cukup berani..."
Setiap orang
di dunia pasti punya cinta pertamanya masing-masing. Jutaan memori masa-masa
itu yang tak bisa ditangkap logika. Tentang rasa sesak di dada, dan bahagia
yang luar biasa saat dia di dekatmu. Sepenggal kisah dari sudut tanpa nama yang
entah dimana ujungnya mencoba bercerita.
Dia
berjalan di jalannya, aku di jalanku. Mungkin kami tak akan pernah bertemu lagi
setelah hari perpisahan SMA. Aku membulatkan tekadku untuk mengungkapkannya
hari itu juga. Aku tak ingin kata 'iya' atau 'tidak'. Berharap tak ada kata yang
terlontar dari bibirnya, karena aku hanya ingin membuat hatiku lega dengan
perasaan yang telah tumbuh selama 3 tahun, dan terima kasihku pada Tuhan karena
pernah mengenalmu.
Segalanya
telah ku persiapkan untuk hari itu. Mulai dari amplop putih berisi surat
untuknya, bunga matahari yang ku tanam dari bayi hingga tumbuh besar nan indah
yang siap ku petik dan kuselipkan di amplop itu, hingga kata-kata apa yang
harus ku ucapkan nantinya. Tetap saja rasa takut itu ada setiap kali aku
melihat bunga matahariku. Tangisan sesekali datang mengingat dimana kamu tidak
menghiraukanku sama sekali. Bayangan masa-masa itu terlintas dibenakku.
***
Hari
itu aku suka padamu, hari itu teman-teman sekelas menyoraki kita. Setiap aku
maju untuk presentasi kelompok, setiap kamu mengajukan pertanyaan tentang
materi yang dibawakan kelompokku, dan itu berlanjut untuk presentasi terakhirku
di kelas sepuluh. Aku bahkan masih ingat suaramu dan pertanyaan yang kamu
ajukan. Dan saat-saat itu juga yang mungkin membuatmu menjauhiku.
Aku berharap
tak mengerti arti air mataku saat drama kelompokmu, dia memelukmu. Tiba-tiba
air mataku jatuh tanpa alasan dan aku berlari ke toilet untuk menghapus air
mataku. Atau tentang hari esoknya aku sakit tidak sekolah. Tapi kamu tetap diam.
Masih dengan gayamu yang mencoba mengalihkan pandangan dengan tidak
menghiraukanku. Diam terus saja diam. Sampai kapan kamu bisa melihatku,
menghiraukanku, atau berbicara padaku. Dulu kita akrab menjadi teman, tapi kamu
mulai menjauhiku sedikit demi sedikit. Bukankah dulu kita berteman. Sekarang,
apa kita sering bertegur sapa, tidak. Apa kita sering berbicara tentang
pelajaran di sekolah, tidak. Aku ingin menghapus semua rasa ini, berharap jadi
teman dekatmu sekarang hanya khayalanku dari banyak mimpi tentangmu. Dan apa
kamu tahu rasanya jadi aku saat seseorang bilang padaku, dia pernah ditembak
kamu 5 kali. Ya sudahlah kamu tak akan mengerti. Hanya diam.
Tentang
gambaranku yang ku berikan padamu, atau tentang sapu tangan yang kutaruh di
motormu. Dapatkah mereka bercerita. Bagaimana perjuanganku untuk menggambar
garis demi garis hingga membentuk sketsa wajahmu, bagaimana sapu tangan itu
begitu ingin membasuh keringat yang jatuh dikeningmu. Atau tentang esoknya
tiba-tiba kamu membawa sapu tangan biru, sama dengan yang aku pakai. Tapi kamu
diam dan masih diam.
Hal ini
semakin meyakinkanku untuk menghapus harapan yang telah kusimpan lama. Short Message Service awalnya ku kira
bisa mendekatkan kita kembali menjadi teman. Aku pernah message kamu berisi namaku saat aku ganti nomor handphone. Tapi sungguh aku sesali
sebulan berikutnya aku mencoba message
lagi lalu apa balasanmu "ini siapa?". Awalnya aku mencoba sabar,
dengan memberi tahu siapa aku. Selanjutnya tak ada balasan lagi darimu.
Sepertinya mendengar namaku saja kamu sudah muak. Kata-kata itu muncul terus,
setiap kali aku mencoba memperbaiki hubungan.
Sebulan
kemudian,
"Ini
siapa?"
Dua bulan
kemudian,
"ini
siapa?"
Tiga bulan
masih dengan kata-kata yang sama, dan balasanku yang sama. Inginku menyerah dan
melupakan semua.
Jika
aku ditanya mengapa menyukaimu Galih, aku menjawab "tidak tahu".
Karena itu sungguh jawabannya. Bukan karena parasmu atau harta orang tuamu. Dan
jika memang harus ada jawaban, aku akan menjawab ''karena Tuhan''. Tuhan yang
mempertemukan kita dulu.
Hari demi
hari berlalu, dan Tuhan mulai menjawab segala pertanyaanku. Mulai hari itu
Tuhan mempertemukanku di rumah-Nya, tapi kami masih diam. Tak ada yang ingin
memulai pembicaraan, meski dijarak dua jengkalpun. Dan kejadian itu berlangsung
terus sampai hari-hari berikutnya.
Haruskah aku
yang memulai duluan, Galih. Maafkan aku jika aku banyak salah padamu. Maafkan
aku yang tak bisa mengerti apa maksudmu selama ini padaku. Maafkan untuk
segalanya.
***
Dan hari itu
datang, aku ingin lupa hari itu tanggal dan tahun berapa. Hari dimana harus aku
ungkapkan segalanya dan menanyakan kata mengapa kepada Galih. Semua temanku
menundukan kepala saat aku memasuki kelas yang dingin itu. Warna yang berbeda
dari biasanya. Jendela yang terbuka dan angin yang berhembus kencang serta nafas
yang tersengal-sengal. Sahabatku Dina juga diam saat aku tanya mengapa. Satu
menit berlalu Dina masih terdiam, hanya terdengar angin yang berbisik dan kicau
burung disela-sela jendela. Dan dua menit, tiga menit, lima menit, sepuluh
menit akhirnya Dina berbicara meski diikuti isak tangis.
"Raa....ratna,
", kata Dina terbata-bata.
"Iya
ada apa Dina, mengapa kamu menangis?" kataku heran.
"Ini,
untukmu", kata Dina memberikanku sebuah surat dengan amplop putih, hampir
sama seperti yang akan aku berikan ke Galih.
Awan mendung
sesaat berada di atas kelas kami, entah kenapa padahal sebelumnya matahari
bersinar terang. Petir memecahkan kaca jendela yang tadinya tempat burung
mungil itu bertengger. Suasana hati ini makin kacau.
Aku mencoba
membuka surat itu, lem amplopnya sangat rekat seolah yang menulisnya sangat
yakin untuk diberikan padaku. Tanganku, badanku tiba-tiba lemas. Aku terjatuh
ke lantai, Dina mencoba membangunkanku. Mataku tak dapat membendung tangisanku
lagi. Itu adalah surat pertama dan terakhir Galih untukku. Dia telah pergi jauh
menuju Sang Pencipta karena Leukimia.
Disana
tertulis,
"..., maafkan aku Ratna, aku menyukaimu. Kesederhanaanmu,
senyummu, ceriamu, segalanya. Selama ini aku diam bukan karena aku membencimu,
aku hanya tak tahu harus bilang apa padamu, aku bodoh Ratna. Aku hanya tak
ingin membuatmu menangisiku. Aku juga ingin kamu melupakan aku. Karena aku akan
pergi selamanya, meninggalkanmu, ..."
Mulai hari itu
tak ada yang membalas message ku lagi
dengan kata "ini siapa?", karena Galih selamanya akan diam. Amplop
putih itu semakin usang dan berdebu. Bunga matahariku telah layu dan mati.
"Senin aku menunggu, selasa masih menunggu. Rabu kau masih
tak disini, pagi hari atau kemudian. Kamis juga masih kosong. Jumat, sabtu,
minggu, tiada hari kau akan kembali."
(L.R.)

